Olahraga mahasiswa di Kabupaten Lahat menyimpan potensi besar. Banyak atlet berbakat siap mengukir prestasi, namun mereka harus berjuang di tengah keterbatasan. Organisasi Bapomi Lahat, yang seharusnya menjadi garda terdepan, dinilai gagal memberikan dukungan penuh. Akibatnya, kisah-kisah atlet terlantar pun bermunculan.
Para atlet seringkali harus menanggung biaya latihan dan akomodasi sendiri. Dana yang dijanjikan tidak kunjung cair. Ini membuat mereka berpikir ulang untuk terus berlatih. Padahal, sebuah prestasi lahir dari kerja keras dan dukungan penuh dari pihak terkait.
Kisah tragis ini salah satunya dialami oleh atlet yang harus menjual barang pribadinya demi bisa ikut kompetisi. Mereka berkorban segalanya, berharap ada perhatian dari Bapomi Lahat. Sayangnya, dukungan penuh itu hanya menjadi janji manis di atas kertas, tanpa realisasi yang nyata.
Kurangnya dukungan ini juga berdampak pada kualitas latihan. Peralatan yang usang, fasilitas yang tidak memadai, dan minimnya try-out membuat atlet tidak bisa berkembang. Potensi mereka tidak terasah maksimal. Padahal, mereka adalah aset berharga untuk masa depan olahraga Lahat.
Isu ini juga merusak moral dan kepercayaan. Atlet merasa tidak dihargai. Mereka berjuang mati-matian, tetapi tidak ada apresiasi. Hal ini menimbulkan kekecewaan yang mendalam. Mereka mempertanyakan mengapa mereka harus terus berkorban jika tidak ada dukungan penuh yang diberikan.
Selain itu, masalah komunikasi menjadi salah satu pemicunya. Pihak Bapomi Lahat terkesan tertutup. Informasi terkait program dan pendanaan tidak sampai ke tangan atlet. Ini menciptakan jurang yang lebar dan memicu spekulasi yang tidak berujung.
Sangat disayangkan, karena sebenarnya antusiasme di kalangan mahasiswa sangat tinggi. Mereka ingin mengharumkan nama Lahat. Namun, semangat itu perlahan meredup karena tidak ada dukungan penuh yang seharusnya mereka terima. Mimpi-mimpi mereka terancam kandas.
Pihak terkait harus segera berbenah. Prioritas harus dikembalikan pada kesejahteraan atlet. Transparansi dan akuntabilitas adalah kunci. Setiap dana yang dialokasikan harus jelas peruntukannya. Tidak boleh ada lagi atlet yang harus berjuang sendiri.