Stadion dan gedung olahraga seharusnya menjadi tempat yang aman bagi semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang tua, untuk menikmati semangat kompetisi. Namun, penggunaan alat peraga yang berbahaya seperti suar atau flare sering kali merusak atmosfer tersebut dan menimbulkan risiko kesehatan serta keamanan yang serius. Di wilayah Lahat, Bapomi (Badan Pembina Olahraga Mahasiswa Indonesia) mengambil langkah tegas dengan meluncurkan gerakan Tribun Tanpa Flare!. Kampanye ini bukan sekadar larangan administratif, melainkan sebuah upaya edukasi masif untuk membangun kesadaran bahwa dukungan yang militan tidak harus diwujudkan melalui tindakan yang membahayakan nyawa dan fasilitas umum.
Kampanye ini didasari oleh banyaknya insiden gangguan pernapasan dan risiko kebakaran yang dipicu oleh asap pekat dari suar di ruang tertutup maupun terbuka. Melalui kampanye anti-anarki, Bapomi Lahat ingin menanamkan nilai bahwa kreativitas suporter mahasiswa haruslah cerdas dan bertanggung jawab. Menggunakan koreografi kertas, nyanyian yang harmonis, atau bendera raksasa jauh lebih bermartabat dibandingkan membakar benda yang dapat memicu kepanikan massal. Integritas penonton mahasiswa diuji di sini; apakah mereka mampu mengontrol euforia mereka demi keselamatan bersama atau justru terjebak dalam tren destruktif yang hanya merugikan tim kebanggaan mereka sendiri melalui sanksi denda dan diskualifikasi.
Manajemen Bapomi Lahat secara konsisten melakukan pemeriksaan ketat di pintu masuk stadion untuk memastikan tidak ada benda terlarang yang masuk ke tribun. Namun, pendekatan utama yang dilakukan tetaplah persuasif. Melalui dialog dengan para koordinator suporter kampus, dijelaskan bahwa tindakan anarkis sekecil apa pun akan mencoreng nama baik almamater. Integritas seorang mahasiswa atlet dan pendukungnya harus mencerminkan nilai-nilai akademis yang intelektual. Stadion harus tetap menjadi ruang publik yang inklusif, di mana semua orang merasa nyaman tanpa harus khawatir terpapar asap kimia yang berbahaya bagi paru-paru.
Selain faktor kesehatan, larangan ini juga bertujuan untuk menjaga kelancaran jalannya pertandingan. Asap dari flare sering kali membuat jarak pandang pemain dan wasit terganggu, yang mengakibatkan pertandingan harus dihentikan sementara. Hal ini merusak ritme permainan dan merugikan kualitas kompetisi itu sendiri. Di wilayah ini, kampanye tribun tanpa flare telah berhasil menurunkan angka insiden keamanan secara signifikan. Penonton kini lebih fokus pada pemberian energi positif melalui sorakan yang memberikan semangat bagi para atlet yang sedang berjuang di lapangan. Perubahan perilaku ini menunjukkan tingkat kedewasaan yang tinggi dari masyarakat olahraga di daerah tersebut.