Nyeri Jempol De Quervain: Panduan Atlet Bapomi Lahat

Dunia olahraga renang menuntut fungsionalitas tangan yang sempurna untuk menciptakan daya dorong maksimal. Namun, di balik gerakan yang terlihat luwes, terdapat risiko cedera tendon yang spesifik pada area ibu jari. Fenomena nyeri jempol De Quervain atau tenosinovitis sering kali menghantui para perenang yang memiliki intensitas latihan tinggi. Kondisi ini merupakan peradangan pada selubung tendon yang terletak di sisi pergelangan tangan dekat pangkal ibu jari. Bapomi Lahat menyusun panduan ini untuk membantu para atlet mahasiswa mengenali gejala dini dan melakukan langkah mitigasi agar mobilitas tangan tetap terjaga selama kompetisi.

Bagi seorang perenang, ibu jari memiliki peran krusial dalam membentuk “mangkuk” saat tangan masuk ke air (entry phase). Jika posisi ibu jari terlalu tegang atau sering melakukan gerakan menyentak saat fase pull, beban pada tendon abductor pollicis longus dan extensor pollicis brevis akan meningkat drastis. Tekanan repetitif ini menyebabkan selubung tendon membengkak dan menyempit, sehingga setiap gerakan ibu jari akan memicu rasa nyeri tajam yang menjalar hingga ke lengan bawah. Panduan atlet ini menekankan bahwa rasa sakit pada pangkal jempol bukanlah kelelahan otot biasa, melainkan sinyal peradangan jaringan ikat.

Gejala dan Deteksi Mandiri Tenosinovitis

Gejala utama dari kondisi ini adalah rasa sakit yang menusuk saat mengepalkan tangan, memegang benda, atau memutar pergelangan tangan. Atlet sering kali merasakan sensasi “tersangkut” atau bunyi klik saat menggerakkan ibu jari. Bapomi Lahat menyarankan penggunaan Tes Finkelstein sebagai deteksi awal: lipat ibu jari ke dalam telapak tangan, genggam dengan empat jari lainnya, lalu tekuk pergelangan tangan ke arah kelingking. Jika muncul nyeri hebat di pangkal jempol, maka kemungkinan besar atlet sedang mengalami nyeri jempol De Quervain.

Kondisi ini jika diabaikan dapat menyebabkan kelemahan pada kekuatan cengkeraman tangan. Bagi perenang gaya dada atau kupu-kupu yang sangat mengandalkan simetri tangan, cedera ini dapat merusak ritme dan keseimbangan kayuhan. Bapomi Lahat mencatat bahwa banyak mahasiswa yang memaksakan diri berlatih dengan bantuan obat pereda nyeri, padahal hal tersebut hanya menutupi gejala tanpa menyembuhkan peradangan yang mendasari, sehingga risiko robekan tendon menjadi lebih besar.