Dalam cabang olahraga memanah, ketepatan bukan hanya soal kekuatan otot lengan atau ketajaman mata dalam membidik sasaran. Faktor penentu yang paling krusial sering kali terletak pada kemampuan seorang atlet untuk mengendalikan kondisi internal tubuhnya di tengah tekanan kompetisi. Bagi para pemanah yang tergabung dalam BAPOMI Lahat, penguasaan terhadap aspek fisiologis menjadi fokus utama dalam latihan rutin mereka. Salah satu metode yang terbukti secara ilmiah mampu meningkatkan stabilitas tubuh adalah penggunaan teknik pernapasan perut. Dengan mengatur ritme napas melalui diafragma, seorang pemanah dapat menurunkan detak jantung dan menjaga konsentrasi tetap tajam saat melepaskan anak panah menuju titik tengah.
Sebagian besar orang cenderung bernapas menggunakan dada saat merasa tegang, yang justru mengakibatkan bahu terangkat dan tubuh menjadi kaku. Hal ini sangat merugikan dalam olahraga memanah karena ketegangan pada bahu akan mengganggu kelancaran tarikan busur (draw). Dengan beralih ke pernapasan perut, atlet di Lahat dilatih untuk membiarkan perut mengembang saat menghirup udara, yang memungkinkan diafragma bergerak ke bawah dan memberikan ruang lebih besar bagi paru-paru untuk menyerap oksigen. Proses ini merangsang saraf parasimpatis yang secara otomatis memberikan sinyal relaksasi ke seluruh tubuh. Hasilnya, otot-otot besar menjadi lebih tenang, namun tetap memiliki kesiapan untuk melakukan gerakan presisi.
Upaya dalam menjaga ketenangan ini sangat berpengaruh pada fase holding atau saat menahan busur sebelum melepaskan tembakan. Pada fase ini, getaran halus pada tangan sering kali muncul akibat kelelahan atau kecemasan. Pernapasan yang teratur membantu menstabilkan tekanan darah sehingga getaran tersebut dapat diminimalisir. Pemanah didorong untuk menyelaraskan ritme napas dengan tahapan menembak; menarik napas saat mengangkat busur, dan mengeluarkan napas perlahan saat membidik. Konsistensi dalam pola ini menciptakan memori otot yang kuat, sehingga saat menghadapi lawan tangguh dalam turnamen resmi, atlet tidak akan mudah goyah oleh gangguan eksternal maupun internal.
Selain stabilitas fisik, teknik ini memiliki dampak besar pada aspek mental. Fokus pada aliran napas bertindak sebagai bentuk meditasi aktif yang menjauhkan pikiran negatif atau keraguan. Di lingkungan memanah, kondisi psikologis yang stabil adalah separuh dari kemenangan. Atlet yang mampu mengelola napasnya dengan baik akan memiliki kontrol emosi yang lebih stabil, sehingga mereka tidak akan terpengaruh oleh skor lawan yang lebih tinggi atau kegagalan pada tembakan sebelumnya. Pelatih di BAPOMI menekankan bahwa setiap anak panah adalah kesempatan baru, dan pernapasan yang benar adalah cara untuk “mereset” mental agar tetap berada dalam kondisi fokus yang optimal.