Ekspedisi Pendaki Muda Lahat: Kibarkan Bendera Bapomi di Puncak Dempo

Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, dikenal memiliki bentang alam yang memukau dengan deretan pegunungan yang menantang adrenalin. Bagi para pencinta alam di tingkat universitas, gunung bukan sekadar gundukan tanah yang tinggi, melainkan sebuah laboratorium mental untuk menguji batas ketahanan fisik dan solidaritas kelompok. Baru-baru ini, sebuah langkah berani diambil oleh sekelompok mahasiswa dalam sebuah Ekspedisi Pendaki Muda Lahat yang bertujuan untuk menaklukkan salah satu titik tertinggi di Sumatera Selatan. Perjalanan ini bukan hanya tentang mendaki, tetapi tentang membawa identitas organisasi ke tempat yang paling terhormat di atas awan.

Persiapan untuk melakukan pendakian ini memakan waktu berbulan-bulan. Para pendaki muda ini menyadari bahwa gunung dengan ketinggian di atas 3000 meter di atas permukaan laut memiliki risiko yang tidak main-main, mulai dari cuaca ekstrem hingga gejala penyakit ketinggian (altitude sickness). Latihan fisik intensif seperti lari lintas alam, latihan beban dengan tas carrier yang berat, hingga simulasi bertahan hidup di hutan menjadi menu wajib. Fokus utama mereka adalah memastikan bahwa setiap anggota tim memiliki kesiapan fisik yang merata agar tidak ada yang tertinggal saat medan mulai menanjak terjal di wilayah Lahat dan sekitarnya.

Momen emosional terjadi saat tim akhirnya berhasil mencapai titik koordinat tertinggi untuk Kibarkan Bendera Bapomi sebagai simbol eksistensi olahraga mahasiswa di kancah petualangan. Bendera yang berkibar tertiap angin kencang di ketinggian tersebut menjadi saksi bisu atas peluh dan lelah yang mereka curahkan selama jalur pendakian. Bagi para pendaki, momen ini adalah bentuk dedikasi mereka terhadap pengembangan minat dan bakat di luar ruangan. Keberhasilan ini juga membuktikan bahwa mahasiswa Lahat memiliki daya tahan yang luar biasa dan mampu bekerja sama dalam tekanan lingkungan yang sangat berat.

Lokasi yang dipilih untuk aksi heroik ini adalah Di Puncak Dempo, sebuah gunung api yang melegenda dengan kawahnya yang memukau namun jalurnya sangat menguras tenaga. Jalur pendakian Dempo dikenal dengan “akar setan” dan kemiringan yang hampir tegak lurus di beberapa titik. Para pendaki harus merayap di antara akar pohon dan bebatuan licin sambil membawa beban logistik yang cukup untuk beberapa hari. Ketangguhan mental diuji saat kabut tebal turun dan suhu udara drop hingga mendekati titik beku. Namun, semangat untuk membawa nama baik daerah dan organisasi menjadi api penyemangat yang tidak pernah padam.